cerita ini diperoleh dari Republika Contributor edisi Kamis, 13 Agustus 2009. barangkali ada yang belum membacanya. Begini kisahnya:
Rowaida yakin jilbab telah membawa dimensi yang indah dalam kehidupannya. “Ketika Anda memutuskan untuk mengenakannya, hal itu akan membuka mata Anda. Dan akan membuat anda ingin mengeksplorasi keyakinan beragama Anda,” kata dia dengan antusias. “Saya dulu merasa seperti ada sesuatu yang kurang dan sekarang saya telah lengkap sepenuhnya.”
Hal senada disampaikan Sarah Hekmati yang pertama kali menggunakan Jilbab pada umur 15 tahun serta besar di Detroit, Michigan. Dia mengatakan bahwa keputusan menggunakan Jilbab telah membebaskan dirinya.
Sementara remaja seusianya sedang berjuang dalam kondisi yang kritis dalam kehidupan mereka, dia telah menemukan jati dirinya sebagai seorang Muslimah. “Jilbab telah memberi saya sebuah identitas,” kata Sarah perempuan berdarah Iran.
“Saya sangat menyukai tujuan di balik penggunaan Jilbab–pakaian yang menutup seluruh tubuh wanita sehingga laki-laki akan mengenali dirinya dari cara berpikirnya bukan dari tubuhnya.”
Islam memandang Jilbab sebagai pakaian yang wajib dikenakan wanita, bukan sekedar memamerkan simbol agama yang sesorang anut.
Namun terkadang Jilbab menyebabkan para Muslimah yang mengenakannya menjadi pusat perhatian.“Anda kadang-kadang seperti berada di kebun binatang: terkurung dalam kandang, dan orang lain memandang dengan penuh stereotip, prasangka dan anggapan pada sebuah parade untuk di analisa, dihancurkan dan dibangun kembali,” kata Randa Abdul Fatah, Muslimah kelahiran Australia dari orangtua keturunan Palestina dan Mesir.
Sarah, Muslimah Detroit, mengatakan terkadang dirinya mendapat tatapan sinis dan penuh kemarahan dari orang-orang yang memandang dirinya seakan-akan seorang teroris. Yang lain memandang dengan penuh keheranan dan bertanya kepadanya mengapa dirinya menutup rambutnya. “Satu orang bertanya kepada saya, apakah saya alergi terhadap matahari?” imbuh Sarah.
Rowaida, Siswi SMA New Jersey, juga memiliki mitos masyarakat terhadap jilbab yang dia kenakan. Namun dia mengatakan yang paling menjengkelkan dari stereotip tersebut adalah ketika masyarakat berasumsi bahwa orangtuanya menekan dia untuk menggunakan Jilbab.
“Ini bukan penindasan, ini bukan berarti saya menyetujui degradasi–ini semua tentang kepedulian terhadap diri sendiri,” jawan dia selalu terhadap pertanyaan mereka. “Ini melambangkan kecantikan bagi saya.” imbuh dia. iol/taq